[REVIEW] Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 – Pidi Baiq

25857857

Judul: Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991

Pengarang: Pidi Baiq

Bahasa: Indonesia

Penerbit: Pastel Books

Diterbitkan pertama kali: 2015

Jumlah halaman: 344hlm

ISBN: 978-602-7870-99-4

Sinopsis:

“Jika aku berkata bahwa aku mencintainya, maka itu adalah sebuah pernyataan yang sudah cukup lengkap.”
―Milea

“Senakal-nakalnya anak geng motor, Lia, mereka shalat pada waktu ujian praktek Agama.”
―Dilan

Jadi…

Sebenernya, aku udah baca ini sejak November tahun lalu, lol. Baru kesampaian dibuat review-nya sekarang.

Well, aku ingat betul kalau aku pernah menganggap Dilan sangatlah boyfriend materials. Iya, itu zaman-zaman Dilan buku pertama. Waktu itu aku juga kemakan gombalan cheesy-nya Dilan.

Tapi, serius, buku kedua Dilan ini sangat mengecewakan.

Buku pertama Dilan adalah masa-masa Milea dan Dilan PDKT, alias masa-masa termanis dalam suatu hubungan. (( JIAH. )) Dan buku kedua adalah masa-masa Milea dan Dilan pacaran, yang mana memiliki banyak konflik.

Meskipun Dilan masih tetap menyemburkan rayuan-rayuan cerdasnya yang bikin meleleh, drama yang ada di sini bikin aku sebal sampai hampir muak. Aku sukses jadi benci dengan Milea. Aku merasa kalau Milea ini hanyalah cewek cantik biasa yang karena itu banyak cowok yang suka sama dia. Cuma karena cantik. Selain itu, menurutku enggak ada lagi daya tarik dia. Sudah gitu, dia ini lebih banyak diam dan pasrah soal cowok.

Maksudku gini, Milea tuh terlalu enggak-enakan. Dari buku satu udah keliatan sih. Dia sama Bani, sama Kang Adi dan sama Yugo, dia milih buat tahan-tahan dulu, mau aja diajak jalan kesana kemari dan bukannya nolak. WHAT THE HELL??????? Kasihan Dilan.

Makanya pas baca Dilan Bagian Kedua ini, aku tidak henti-hentinya cursing pada Milea atau minimal teriak ‘WOY APA-APAAN NIH’.

Sudah gitu ya, menurutku Milea terlalu mengekang Dilan. Beneran. Ngerti sih, dia mungkin ngelakuin itu karena rasa sayangnya, tapi- yaampun, kalau terlalu ngekang juga kan nyebelin. Dilan bukan anjing.

Di buku ini juga dijelaskan kenapa pada akhirnya Milea malah nikah sama orang lain bukan sama Dilan dan kenapa dia bisa pisah sama Dilan.

Oh, selain Milea, ada lagi tokoh yang menggangguku. Bundanya Dilan. Well, bisa dibilang Bunda adalah sosok ibu mertua idaman. Tapiiiiiiii, menurutku Bunda ini terlalu, apa ya, terlalu membiarkan anaknya.

Gini, Dilan itu anak geng motor, sering berantem, pernah dipenjara, dan dikeluarkan dari sekolah, tapi Bunda seperti bersikap ‘yaudahlah’ aja setiap Dilan kenapa masalah. YaAllah, Bunda, aku jadi Dilan mah pedih, Bunda begitu tsadeeeeest. :”((((

Untuk keseluruhannya sih, lumayan baik-baik aja. Aku gak menemukan typo, entah kurang teliti atau emang gak ada. Sinopsisnya, hm ini letak kekurangan. Biasanya, kalau mau beli novel, aku akan melihat blurb di belakang buku. Tapi, isi blurb Dilan ini gak ada apa-apanya selain kutipan isi buku. Gak ada ringkasan ceritanya. Bikin ragu juga sebenarnya kalau nemuin novel kayak gini. Aku jadi gak bisa nebak gimana isinya, apa ceritanya.

Well, karena Dilan dan Dilan Bagian Kedua dari sudut pandang Milea, aku penasaran gimana sebenarnya isi hati dan sudut pandang Dilan. Dengar-dengar, Pidi Baiq akan merilis ‘Milea’, kisah Dilan-Milea dari sudut pandang Dilan sendiri. Baru rumor, sih, tapi ya semoga aja bener, ayo kita semua berdo’a agar jadi nyata? HEHEHE.

Tiga tengkorak untuk Dilan Bagian Kedua.

skl3


Kutipan-kutipan

– “Kamu pikir bandel itu gampang? Susah. Harus tanggung jawab sama yang dia udah perbuat” – Dilan.

– “Ah, gak apa-apa pacaran sama kamu juga, deh. Asal kamunya tetep ada di bumi, udah cukup, udah bikin aku seneng” – Dilan.

– “Kalau kamu ninggalin aku, itu hak kamu, asal jangan aku yang ninggalin kamu. Aku takut kamu kecewa” – Dilan.

– “Neil Armstrong pasti kecewa, udah capek-capek jadi Neil Armstrong, eh gak pacaran sama kamu. Ngapain jauh-jauh ke bulan?” – Dilan.

– “Kayaknya neraka menjadi jauh lebih baik dibanding dengan dirinya” – Milea.

– “Sayangku, aku rindu!” – Milea.

– “Orang sakit jiwa!” – Milea.

– “Dimulainya berpacaran tidak harus diungkapkan dengan pernyataan. Nyatain cinta itu gak penting, yang penting itu tindakan” – Yugo.

– “Semua sikapku ke kamu, bahkan ketika aku marah, bahkan termasuk ketika aku kesal, bahkan termasuk ketika aku jengkel, kamu harus tahu bahwa itu semua bersumber dari aku yang sangat mencintai dirimu” – Milea.

– “Bayangkan, di saat kita sedang mencintai seseorang, pasti kita akan cenderung untuk bisa memberikan perasaan kita sepenuhnya, dan manakala seseorang itu pergi, rasanya seperti bagian dari kita telah lenyap” – Milea.

– “Itu adalah masa lalu yang indah, yang kuanggap sebagai hadiah darimu” – Milea.

-nafadyas-

2 thoughts on “[REVIEW] Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 – Pidi Baiq

    • Sama banget! 😦 Makanya kubilang mengecewakan, karena enggak seperti yang pertama. Yang kedua ini gak jauh beda sama novel-novel kebanyakan.

      Like

Leave a comment