[Review] Dear Miss Tuddels – Ginger Elyse Shelley

27239156

Judul: Dear Miss Tuddels

Pengarang: Ginger Elyse Shelley

Bahasa: Bahasa Indonesia

Penerbit: DivaPress

Diterbitkan pertama kali: 2015

Jumlah halaman: 224hlm

ISBN: 978-602-255-967-2

Sinopsis:

“Kurasa aku benar-benar jatuh cinta. Aku tahu ini sangat konyol. Aku hampir selalu mencemooh pembicaraan soal cinta selain pernyataan tentang betapa palsunya kata itu. Kurasa ini yang namanya ironi.”

Matteus MacGregor tak pernah percaya pada cinta—pernikahan yang dilandasi cinta. Meskipun ia menginginkannya, itu sama seperti ingin bertemu seekor unicorn. Namun, tanpa ia sadari, Kimberley Tuddels menyelusup ke hatinya.

Namun, Kimberley Tuddels adalah pelayannya. Hubungan cinta antara majikan dan pelayan dan majikan adalah skandal besar di kalangan bangsawan Inggris pada zaman Victoria, tahun 1800-an.
Bagaimana cara Matteus dan Kimberley meraih kebahagiaan dan cinta mereka di tengah situasi sosial yang demikian?

Jadi…

INI MAKSUDNYA APA YA INI APA-APAAN???????????

Oke, maaf. Kebawa emosi. Maaf. Tapi aku yakin, kalau kalian baca novel ini, kalian akan bereaksi yang kira-kira sama seperti itu. Karna, buku ini benar-benar menyedot emosi. Segala emosi—senang, girang, sedih, haru, marah, dsb—dicurahkan di buku ini.

Sebelum aku menjelaskan kenapa kalimat pembuka review pertamaku di tahun 2016 seperti itu, akan aku ceritakan dulu mengenai isi buku ini.

Kisah ini berlatarkan tahun 1800-an, saat Inggris dipimpin oleh Ratu Victoria, jadi- iya, ini era Victoria. Kimberley Tuddels yang berusia duabelas tahun melakukan perjalanan panjang dari rumahnya di Cornwall ke Brighthelmston, tempat dimana ia akan mulai bekerja sebagai asisten pengasuh putra keluarga Macgregor. Kim tidak menduga kalau pertemuannya dengan sang majikan akan berakhir jadi … begitu.

Matteus ‘Matthew’  Macgregor yang santun, baik hati dan sabar berkat hasil didikan sang pengasuh, Catarina DiBeneditto, sempat merasa konyol ketika kepala pelayan (sekaligus bibi Kim) Brightelmston Hall, Agatha Springer membawa masuk pengasuh barunya. Dia sudah besar, dia tidak butuh dua pengasuh—bahkan satu pengasuh sekalipun. Tapi tetap saja, Matthew tidak bisa menolaknya, lagipula gadis itu sudah datang. Jadilah ia menjalani hari-hari barunya bersama sang pengasuh, Kim.

Kim yang polos dan terkesan bodoh dan Matthew yang penyabar, baik dan romantis benar-benar membuatku jatuh cinta. Semenjak ditugaskan sebagai pengasuh Tuan Muda, Kim hampir tidak pernah absen berada di dekat Matthew. Tingkah mereka waktu masih kecil itu ngegemesin banget, serius. Misalnya, waktu Matthew berbaik hati mengajari Kim membaca dan kemudian menyerah karna dia merasa itu agak sulit.

“Miss Tuddels, kurasa aku tidak bisa mengajarimu lagi!”

Aku segera menegaskan setelah kupikirkan masak-masak selama dua hari. Yang ada di kepalaku selama pelajaran bahasa Jerman adalah bagaimana caranya membuatnya ingat huruf “Q”

Kimberley Tuddels memiringkan kepalanya. Tidak, aku tidak akan mengubah keputusanku. Tidak meskipun Granny yang membujukku.

“Baiklah,” kata Kimberley Tuddels. “Tapi Anda yakin? Karena saya sudah hafal dua puluh enam alfabet.”

“Oke, ayo kita belajar membaca kata.”

Mulut besarku harus segera dijahit, sungguh.

LUCU BANGET IH MEREKA TUH SUMPAH.

Seiring berjalannya waktu, yah, mereka jadi banyak konflik. Tapi puncaknya adalah saat mereka menyadari perasaan masing-masing. Syukurlah, soalnya mereka sempat bilang bahwa mereka menganggap diri mereka seperti kakak untuk yang lain dan begitu pula sebaliknya. Brother-sisterzone abis. 😦

Nah, di era Victoria itu, hubungan cinta bangsawan-pelayan merupakan skandal besar. Tapi seperti ungkapan ‘sepandai-pandai bajing melompat, dia akan jatuh juga’, hubungan antara Kim dan Matthew ketahuan. Dan orang yang mengetahui pertama kali adalah—sialnya—Darius Brummell, kerabat Matthew yang menyebalkan. Dia (sok-sokan) berjanji untuk membantu mereka, tapi ternyata dia malah *sighs* bersikap kurang ajar dan melecehkan Kim. Darius memerkosa Kimberley Tuddels dan setelah itu MATTHEW MEMERGOKI MEREKA. Demi Tuhan, Darius, akan kubunuh kau.

Tidak sampai situ, ada lagi Dorothy Worchester, tunangan Matthew yang rupanya bisa mencium hubungan gelap Matthew dan Kim. Ah, pokoknya mah rumit banget rintangan yang harus dihadapi Kim-Matthew.

Ditulis dengan sudut pandang dan emosi Kim dan Matthew, Ginger Elyse Shelley lagi-lagi berhasil mengaduk-ngaduk perasaanku yang lemah ini. 😦

Kak Ginger juga berhasil membuatku kembali ke era Victoria. Aku tidak menemukan adanya typo di dalam penulisannya, rapi dan enak dibaca. Dengan humor-humor receh yang disisipkannya, aku benar-benar mencintai buku ini.

Oh, oh, tunggu. Kecuali bagian ending-nya.

SERIUS DEH ITU MAKSUDNYA APA-APAAN YA??????????? Hatiku tercabik-cabik, senpai. 😦 IH KESEL IH SAMA ENDINGNYA. T_T Masa depan yang indah sudah hampir diraih tapi …………

:(((((((((((((((((((((

Kuberikan empat tengkorak pada kisah cinta Kim-Matthew yang manis ini, terimakasih banyak untuk kak Ginger yang sudah sukses membuat moodku naik turun di Sabtu yang indah ini. :)))

skl2


 

Kutipan-kutipan

–”Mau aku jujur? Kurasa dia bodoh, anak kampung” – Matthew.

–”Kadang-kadang, orang ingin tahu apa yang mereka masukkan ke mulut mereka” – Matthew.

–”Bahkan meskipun kau tidak bisa menikmati ratusan jenis teh, atau menghadiri ratusan pesta dansa, kau dicintai” – Granny Catarina.

–”Jadi orang baik di tengah-tengah lautan orang picik itu susah, tahu?” – Matthew.

–”Aku tidak melupakan janji. Tidak pernah” – Matthew.

–”Wah. Sekarang aku yakin kalau cinta tidak memiliki batasan” – Matthew.

–”Kurasa itu cara yang sangat manis untuk meninggal–tetap utuh, hanya sedikit pucat” – Matthew.

–”Kenapa bangsawan senang membicarakan hal-hal tolol, sih?” – Kim.

–”Sedikit sakit hati, tentu saja. Tapi, tidak. Kurasa aku hanya menghindarimu” – Kim.

–”Kurasa aku benar-benar jatuh cinta. Aku tahu ini sangat konyol. Aku hampir selalu mencemooh pembicaraan soal cinta selain pernyataan tentang betapa palsunya kata itu. Kurasa ini yang namanya ironi” – Matthew.

–”Berbeda denganku, semua orang menyayangimu–kau memang sangat mudah untuk dicintai” – Darius.

–”Aku tidak akan melepaskanmu. Berapa kalipun perasaanmu pergi, akan kukejar seandainya itu terjadi. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi” – Matthew.

–”Aku mencintaimu, seakan aku lahir dengan kewajiban untuk mencintaimu, dan hanya untuk mencintaimu. Mencintaimu adalah hak lahirku, hal yang membentuk dan mempertahankan hidupku” – Matthew.

–”Mencintai orang tidak pernah menjadikan orang jahat” –Darius.

–”Cinta bukan alasan untuk menghalalkan segala cara” – Matthew.

–”Jika aku terpaksa meninggalkanmu, maukah kau mengingatku sebagai kenangan yang indah? Karena aku tahu aku akan mengingatmu seperti itu” – Matthew.

–”Mana mungkin aku bisa mengingatmu sebagai kenangan? Kau tak akan pernah meninggalkan hatiku” – Kim.

–”Meskipun kita berpisah, percayalah di dalam sini tidak ada sosok diriku, sosokmu, atau siapa pun. Di dalam sini hanya ada hatiku yang selalu mencintaimu” – Kim.

–”Meski salah, meski ditentang, perasaan ini tidak bisa dihentikan. Begitu kita menyadarinya, tak ada yang bisa kita lakukan untuk menghentikannya” – Matthew.

–”Kau tidak mencintaiku. Kalau kau mencintaiku, kau tidak akan berusaha dengan menyakiti hatiku” – Matthew.

-nafadyas-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s