[REVIEW] An Abundance of Katherines (Tentang Katherine) – John Green

23149090

Judul: Tentang Katherine

Judul asli: An Abundance of Katherines

Pengarang: John Green

Penerjemah: Poppy D. Chusfani

Bahasa: Indonesia

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Diterbitkan pertama kali: 2014

Jumlah halaman: 320hlm

ISBN: 978-602-03-0893-7

Sinopsis:

Katherine V menganggap cowok menjijikkan.
Katherine X hanya ingin berteman.
Katherine XVIII memutuskan Colin lewat email.

Kalau soal pacar, ternyata tipe yang disukai Colin Singleton adalah cewek-cewek bernama Katherine.

Dan kalau soal Katherine, Colin selalu jadi yang tercampak. Setelah diputuskan Katherine XIX, cowok genius yang hobi mengotak-atik anagram ini mengadakan perjalanan panjang bersama teman baiknya. Colin ingin membuktikan teori matematika karyanya, supaya dapat memprediksi hubungan asmara apa pun, menolong para Tercampak, dan akhirnya mendapatkan cinta sang gadis.

Jadi…

Ini merupakan novel John Green favoritku yang kedua. Jujur saja, dibandingkan dengan yang lainnya, An Abundance of Katherines penuh humor dan sangat kocak!

Ini menceritakan soal seorang cowok bernama Colin Singleton yang baru saja diputuskan oleh pacarnya. Lantas apa spesialnya? Nama (mantan) pacarnya adalah Katherine, dan lebih dari itu, dia merupakan Katherine kesembilan-belas yang sudah Colin pacari. Yap. Colin memiliki sembilan belas mantan pacar bernama Katherine. K-A-T-H-E-R-I-N-E, bukan Kat atau Katie atau Kitty atau Cathy atau Rynn atau Trina atau Kay ataupun Catherine.

Colin benar-benar kacau ketika diputuskan oleh Katherine XIX, jadi dia dan sohibnya, Hassan, memutuskan untuk melancong. Awalnya mereka berkendara tanpa tujuan, bagi mereka, yang penting mereka pergi saja. Hassan sempat menawarkan Colin untuk pergi melihat Salib Kayu Terbesar di Dunia yang letaknya di Kentucky, tapi Colin menolak. Colin justru mengajak Hassan untuk berkunjung ke makam Archduke Franz Ferdinand di Gutshot, Tennessee dan akhirnya bertemu Lindsey Lee Wells. Mereka memang berencana cuma berkunjung sebentar, tapi karna Colin mengalami ‘kecelakaan’ kecil, mereka terpaksa menetap sampai Colin pulih lagi. Untuk sementara, mereka tinggal di rumah Lindsey. Tidak gratis, tentu saja. Mereka bertiga—iya bertiga, dengan Lindsey—harus bekerja pada Hollis, ibu Lindsey.

Well, sebenarnya aku sudah bosan mengatakan ini, tapi; tokoh utamanya egois namun persahabatan di novel ini sangat kentara sekali. Di sini, Hassan dan Colin terlihat saling membutuhkan dan bergantung pada satu sama lain. Yang aku suka dari novel ini adalah Uncle John menyisipkan lebih banyak humor dan lelucon dan juga … catatan kaki! Catatan kakinya bukanlah catatan kaki yang menjelaskan akan satu kata (well- iya sih, memang sebagian seperti itu) tapi beberapa juga hanyalah author’s note biasa, yang cukup menghibur sebenarnya. Catatan kaki itu juga berhumor. Rasanya seperti membaca seri Keluarga Flood, menyenangkan.

Seperti yang sudah kukatakan, tokoh utama di novel ini juga egois banget. Colin tidak memikirkan hal lain selain hubungannya dengan semua Katherine dan rumus matematika yang sedang ia buat. Dia bahkan mencerca sahabatnya sendiri hanya karna Hassan mencium cewek. Dih. Payah banget.

Tapi setidaknya, ini lebih mending daripada yang lain. Dan aku menemukan bahwa, sudut pandang yang digunakan di sini adalah sudut pandang ketiga bukannya sudut pandang pertama. Kemajuan hebat. Andai semua buku Uncle John se-menarik ini, aku bakal jadi fans nomor satunya yang bakal berlutut di hadapannya dan memujanya dan menyembahnya.

Jadi, empat tengkorak untuk An Abundance of Katherines atas catatan-kaki-penuh-humor. =)) skl2


Kutipan-kutipan

“Tapi ibu-ibu suka berbohong. Itu ada dalam deskripsi pekerjaan mereka”

“Aku cuma ingin merangkak ke dalam lubang dan mati” – Colin.

“Aku hanya ingin dia mencintaiku dan melakukan sesuatu yang berarti dalam hidupku” – Colin.

“Aku lihat. Dan aku bisa bilang, orang sesat, aku tidak suka yang kulihat” – Hassan.

“Aku ini–aku manusia gagal” – Colin.

“Aku sendirian. Oh Tuhan, aku sendirian lagi” – Colin.

“Dan bukan cuman itu. Aku juga manusia gagal, kalau kau belum sadar” – Colin.

“Benar, tapi aku tidak akan berbohong pada ibuku, karena anak macam apa yang berbohong pada ibunya sendiri?” – Hassan.

“Aku sudah bilang, ‘kan. Jangan main-main dengan perempuan” – Mrs. Harbish.

“Mereka hanya iri” – Mrs. Singleton.

“Kebancianmu membuatku jijik” – Hassan.

“Kalian tidak bisa tinggal bersama orang lain” – Mr. Singleton.

“Bisakah kau berdoa tidak terlalu nyaring? Maksudku, bukankah Tuhan bisa mendengarmu meski kau berbisik-bisik?” – Colin.

“Dan aku capek melihatmu bergaul denganku hanya agar kau bisa mengejekku” – Colin.

“Jadi, yeah. Bunuh saja aku” – Hassan.

“Kau tahu masalahmu apa? Kau tidak sanggup membayangkan bahwa seseorang bisa saja meninggalkanmu” – Hassan.

“Aku tahu kau benar. Maksudku, aku memang orang egois brengsek” – Colin.

“Dude. Kau mau aku bilang kau sahabat karibku dan aku sangat mencintaimu dan kau genius sehingga aku ingin meringkuk memelukmu saat tidur di nmalam hari? Karena aku tidak akan berbuat itu” – Hassan.

-nafadyas-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s