[REVIEW] Looking for Alaska (Mencari Alaska) – John Green

22730973

Judul: Mencari Alaska

Judul asli: Looking for Alaska

Pengarang: John Green

Penerjemah: Barokah Ruziati dan Sekar Wulandari

Bahasa: Indonesia

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Diterbitkan pertama kali: 2014

Jumlah halaman: 288hlm

ISBN: 978-602-03-0732-9

Sinopsis:

Sebelum. Miles “Pudge” Halter sangat suka kata-kata terakhir yang terkenal––dan bosan dengan kehidupannya yang biasa saja. Ia masuk sekolah berasrama Culver Creek untuk mencari apa yang disebut penyair Francois Rabelais sebagai “Kemungkinan Besar”. Hidupnya jungkir balik di sekolah itu, yang kadang gila, tidak stabil, tak pernah membosankan. Sebab di sana ada Alaska Young, yang menawan, pintar, lucu, seksi, kacau, dan sangat memikat. Alaska menarik Pudge memasuki dunianya, melontarkannya ke dalam “Kemungkinan Besar”, dan mencuri hatinya.


Sesudah. Segalanya tak pernah sama lagi.

Jadi…

Oke, jadi di antara semua buku John Green, aku menyatakan bahwa; Looking for Alaska adalah buku Uncle John favoritku.

Well, novel ini benar-benar menunjukkan sisi persahabatannya dibanding novel-novel dia yang lain. Looking for Alaska menceritakan seorang anak bernama Miles Halter yang—pada awalnya—memiliki kehidupan sosial yang terlampau biasa-biasa saja alias amat-sangat membosankan. Suatu hari, ia memutuskan untuk pindah ke sekolah berasrama Culver Creek , yang dulunya adalah sekolah khusus anak cowok tapi sekarang sudah menjadi sekolah asrama anak cowok dan cewek. Alasannya untuk pindah adalah 1. ) Kehidupannya di Florida—di sekolahnya yang sekarang, luar biasa membosankan; 2. ) Dia ingin mencari apa yang disebut oleh penyair Francois Rebelais ‘Kemungkinan Besar’ dalam kata-kata terakhir sang penyair.

Di Culver Creek, Miles berkawan dengan Chip Martin yang dijuluki Kolonel dan kini, dia tidak dikenal sebagai Miles Halter, melainkan sebagai Pudge—alias lemak tubuh, kata Kolonel “Ini karna kau kurus kering.”. Selain Kolonel, Miles—Pudge, terserahlah—juga bertemu dengan Alaska Young, cewek paling seksi yang pernah dia lihat seumur hidupnya. Lalu ada juga Takumi. Dan ada juga kelompok yang paling dibenci oleh Kolonel—dan mungkin juga anak se-Culver Creek—bernama Weekday Warriors.

Pudge yang tadinya adalah seorang penganut peraturan-sekolah, menemukan kebebasan saat berkawan dengan Kolonel, Alaska, dan Takumi—dan, Lara; pacar-sesaatnya. Di Culver Creek, Pudge melaksanakan kejahilan-kejahilan agak-ekstrem, merokok, minum-minum, make out, dan di hari pertamanya dia ditenggelamkan di danau dalam keadaan telanjang oleh beberapa anggota Weekday Warriors.

Meskipun berpacaran dengan Lara, Pudge tau yang dia cintai adalah Alaska. Tapi, Alaska sudah punya pacar, Jack. Lalu pada suatu malam, karna pengaruh alkohol dan agak kehilangan kesadaran, mereka melakukan itu dengan Kolonel menyaksikannya. (Oke, itu agak sinting. Maksudku- serius deh, orang macam apa yang mau dilihat saat sedang bercinta?) Tapi, dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, semuanya berubah. Esok paginya, Pudge dan Kolonel dikejutkan oleh Alaska yang menangis dan meminta bantuan mereka jam tiga pagi. Dan beberapa jam setelahnya, mereka berdua diminta si Elang—guru pengawas, apalah itu—untuk ke aula olahraga. Mereka kira, si Elang mengetahui perbuatan mereka semalam (mabuk dan Pudge dan Alaska bercinta) dan perbuatan mereka tadi pagi (melempar petasan untuk mengacaukan pagi si Elang agar dia tidak tahu bahwa Alaska menyelinap keluar asrama dengan mobilnya). Tapi ternyata tidak.

Mereka dikumpulkan untuk mendengar kabar duka. Alaska Young tewas dalam kecelakaan mobil.

Semua orang syok, bahkan orang-orang yang tidak kenal Alaska. Butuh beberapa waktu bagi Kolonel dan Pudge memulihkan diri dari kenyataan bahwa Alaska sudah meninggal. Lalu, mereka mulai melakukan penyelidikan. Seperti, kenapa Alaska bisa meninggal? Kenapa Alaska mendatangi mereka pagi itu dengan menangis dan memohon-mohon?

Harus akui, Looking for Alaska memang agak-agak bikin depresi. Banyak hal yang enggak dijelaskan dengan tuntas di sini. Terutama soal kematian Alaska. Apa dia bunuh diri? Apa ini karna pengaruh alkohol? Atau apa? Walaupun aku sempat cursing di bagian-bagian itu, aku tetap sangat menyukai novel ini. Nilai persahabatan di sini kentara sekali. Meskipun, seperti biasa, tokoh utama kita bertindak sedikit egois.

Hal lain yang membuatku senang adalah, dari buku ini aku bisa mengetahui kata-kata terakhir dari beberapa tokoh dunia. Kebanyakan lucu sisanya agak garing atau menyedihkan. Tapi, ya, Looking for Alaska benar-benar keren. Aku agak berharap Uncle John akan membuat novel berlatar sekolah yang benar-benar menonjolkan kehidupan sekolah lagi. Well– ratingku untuk Looking for Alaska adalah empat tengkorak. :))

skl2


Kutipan-kutipan

“Itu alasanku pergi. Agar aku tak harus menunggu sampai mati untuk mulai mencari Kemungkinan Besar” – Pudge.

“Orang lain menggilai cokelat; aku menggilai pernyataan saat sekarat” – Pudge.

“Aku juga, sebenarnya, aku merasa mungkin ada beberapa hal yang harus tetap jadi rahasia” – Takumi.

“Kita hanya akan mencari hal-hal yang perlu diketahui” – Kolonel.

“Kalian semua merokok untuk menikmatinya. Aku merokok untuk mati” – Alaska.

nafadyas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s